
Jakarta, justinstago Indonesia
—
Harga minyak
dunia kembali melonjak setelah militer
Amerika Serikat
(AS) melancarkan serangan baru ke Iran pada Rabu (8/7). Eskalasi konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak, terutama melalui
Selat Hormuz
.
Mengutip
Reuters,
harga minyak mentah Brent naik menjadi US$79,28 per barel dari level penutupan US$78,02 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat ke US$74,76 per barel dari posisi penutupan US$73,52 per barel.
Sebelumnya, kedua kontrak minyak acuan tersebut ditutup pada level tertinggi dalam lebih dari dua pekan setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran mulai Rabu malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trump juga menyatakan kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang dengan Iran telah berakhir, meski ia menegaskan tidak menginginkan perang berskala penuh.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengumumkan telah memulai serangan baru ke Iran dengan tujuan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka bagi lalu lintas pelayaran.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa operasi militer terbaru diperkirakan lebih besar dibandingkan serangan yang dilakukan sehari sebelumnya.
[Gambas:Youtube]
Media Iran melaporkan sejumlah ledakan terjadi di Bandar Abbas, Abu Musa, Bushehr, dan beberapa wilayah lainnya. Serangan terbaru ini merupakan kelanjutan dari meningkatnya ketegangan setelah Iran menyerang kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Sebagai respons, AS mencabut pelonggaran sanksi terhadap penjualan minyak Iran yang sebelumnya disepakati dalam perjanjian sementara kedua negara bulan lalu. Iran juga mengklaim telah menyerang fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait. Serangan tersebut kemudian dibalas oleh militer AS.
Selat Hormuz menjadi jalur vital perdagangan energi dunia karena sekitar seperlima pasokan minyak global dikirim melalui perairan tersebut sebelum pecahnya perang Iran. Penguasaan Iran atas jalur pelayaran itu selama ini menjadi salah satu alat tekan utama dalam konflik yang bermula dari serangan udara AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.
Di tengah meningkatnya konflik, otoritas maritim turut menaikkan tingkat ancaman bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz menjadi kategori ‘parah’ setelah dua kapal tanker diserang pada Selasa (7/7).
(ldy/ins)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: Timnas Indonesia U-17 Bungkam Malaysia, Erick Ingin Tiru Jepang
Baca lagi: Tilly Norwood Akan Debut sebagai Aktor AI Pertama di Layar Lebar
Baca lagi: 10 Tanda Kucing Sebenarnya Sayang Kamu, Bukan Sekadar Mengeong




One Response
Artikel ini cukup menarik karena pembahasannya mudah dipahami dan informasinya tersusun dengan rapi. Saya jadi mendapatkan beberapa wawasan baru yang sebelumnya belum saya ketahui. Mungkin ke depannya bisa ditambahkan lebih banyak contoh kasus atau pembahasan yang lebih mendalam agar pembaca semakin mudah memahami topiknya. Kebetulan saya juga menemukan referensi lain yang membahas tema serupa di ultra ruby, sehingga bisa menjadi tambahan bacaan bagi siapa pun yang ingin mempelajari topik ini dari sudut pandang yang berbeda. Terima kasih sudah membagikan artikel yang bermanfaat, semoga semakin banyak konten berkualitas seperti ini.