Riset Bongkar Beda Cara Habiskan Uang ala Old Money vs OKB

Jakarta, justinstago Indonesia

Riset Boston Consulting Group (

BCG

) membeberkan cara

new money

alias orang kaya baru (

OKB

) dan

old money

atau orang kaya turun-temurun dalam menghabiskan uang.

Mengutip

Reuters

, ledakan industri kecerdasan buatan (AI) dan teknologi antariksa telah berhasil melahirkan banyak miliarder baru, tetapi cara mereka membelanjakan uangnya justru di luar dugaan.

Berbeda dengan kalangan

old money

yang suka memborong tas mewah atau baju desainer, para jutawan teknologi baru ini justru lebih hemat. Pengeluaran

new money

untuk pakaian bermerek dan barang mewah tercatat sepertiga lebih sedikit.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Tim Kemewahan Global BCG Filippo Bianchi mengungkapkan prioritas pengeluaran utama kaum OKB teknologi ini beralih ke aset tahan lama seperti properti, kapal pesiar, dan mobil, serta pengalaman hidup yang unik.

Selera mereka terbilang unik, cenderung eksentrik, dan menjauh dari standar kemewahan tradisional.

Misalnya, seorang mantan ilmuwan data di SpaceX Chip, yang baru mencairkan sahamnya senilai US$3,5 juta atau setara Rp63,42 miliar (asumsi kurs Rp18.120 per dolar AS).

Dibanding membeli barang bermerek, ia justru membeli sebuah meteorit seharga US$10 ribu atau sekitar Rp181,2 juta dan truk pemadam kebakaran bekas senilai US$5.000 atau Rp90,6 juta hanya untuk memeriahkan pesta ulang tahun anaknya yang berusia tiga tahun.

Serupa, mantan pakar strategi AI di OpenAI Zack Kass menggunakan keuntungan sahamnya untuk membeli sebuah tim olahraga voli profesional.

“Saya bermain voli di SMA dan perguruan tinggi,” ujar Zack.

“Saya benar-benar menggunakan keuntungan dari OpenAI untuk membeli sebuah tim olahraga profesional,” tambahnya.

Perbedaan kontras antara

new money

dan

old money

juga terlihat jelas dari pemilihan jam tangan. Kaum OKB lebih terpikat pada fungsionalitas daripada gengsi semata.

Banyak dari mereka lebih memilih

smartwatch

seperti Apple Watch untuk melacak kesehatan harian dibanding jam tangan mekanik berlapis emas.

Namun, jam tangan mewah seperti Rolex dan Cartier tetap dilirik karena bisa dijadikan investasi. Pasalnya, harga bekasnya sering kali jauh lebih mahal daripada harga barunya di toko.

Kendati demikian, Pendiri Harrison Lifestyle Concierge Harrison Colcord menegaskan bahwa bagaimanapun seseorang tidak akan mengenakan jam tangan pintar saat memakai tuksedo atau setelan jas.

Pergeseran selera belanja dari kaum OKB teknologi ini tentu menjadi alarm keras bagi merek-merek fashion raksasa dunia seperti LVMH, Richemont, Hermes, Gucci yang pasarnya sempat mengalami kontraksi dalam dua tahun terakhir.

Merek dengan logo kuat seperti Chanel dan Hermes memang masih punya peluang dilirik oleh OKB tersebut. Namun, untuk pakaian sehari-hari, kaum

new money

tidak ambil pusing dan memilih tetap kasual.

Bahkan, hal ini tercermin dari pengakuan Chip yang enggan membeli pakaian mewah dan lebih nyaman memakai kaus dan celana pendek yang sudah dikenakan bertahun-tahun.

Bahkan, jaket terakhir yang ia beli justru berasal dari toko barang bekas Goodwill.

“Itulah yang membuat saya nyaman, saya rasa hal itu tidak akan berubah,” ujar Chip.

[Gambas:Video justinstago]

(fln/sfr)

Add

as a preferred

source on Google

Baca lagi: Film Kung Fu Soccer Stephen Chow Raup Rp1,2 T dalam Dua Hari

Baca lagi: Bumbum Keluar dari Sukses Lancar Rejeki, Fokus Pendidikan

Baca lagi: Mongol Kenang Temon sebagai Sosok yang Tak Pernah Merasa Senior

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: